Tuesday, November 18, 2008

Pantai Depok

Pantai Depok termasuk pantai yang berada di kawasan Pantai Parangtritis dan secara khusus kawasan Pantai Depok menjadi sebuah perkampungan nelayan. Letaknya kurang lebih 40 kilometer arah selatan dari pusat Kota Jogja, atau tepat di sebelah timur muara Sungai Opak.

Di sini pengunjung bisa menyaksikan kehidupan sehari-hari nelayan sekaligus membeli ikan segar dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pasar Ikan Pantai Depok yang beroperasi tiap hari serta menikmati masakannya di warung-warung makan yang tersedia.

TIPS & TRIK
- Perhatikan mitos penduduk setempat yang menyarankan agar tidak memakai pakaian yang berwarna hijau karena dipercaya dapat menarik perhatian "kekuatan" Laut Selatan
- Ombak pantai Depok cukup tinggi dan dasar laut yang berpalung kecil membuat ombak menggulung dan menyeret serta cukup berbahaya untuk aktivitas mandi atau berenang sehingga tidak dianjurkan untuk terlalu jauh ke tengah laut

take from gudeg.Net

Banyusumurup, Desa Kerajinan Aksesoris Keris


Menikmati proses pembuatan beragam aksesoris keris adalah agenda paling tepat setelah melihat beragamn koleksi keris dan proses menghias keris. Anda akan semakin mendapat gambaran lengkap tentang bagaimana keris dan aksesorisnya diproduksi. Desa Banyusumurup adalah lokasi tempat anda bisa menikmatinya, sebuah desa yang sejak tahun 1950-an berkembang menjadi sentra kerajinan aksesoris keris.

Desa Banyusumurup memproduksi warangka atau sarung keris dan pendok atau bagian tangkai keris yang berfungsi sebagai pegangan. Wilayah ini bisa dijangkau dengan berjalan lurus ke selatan dari perempatan Terminal Giwangan dan kemudian mengambil lajur kanan setelah sampai di pertigaan menuju makam Imogiri. Anda mesti menempuhnya dengan kendaraan pribadi atau taksi, sebab tak ada angkytan umum seperti bis yang melewatinya.

Suasana sejuk pedesaan akan segera menyapa setelah anda sampai di wilayah ini. Meski telah berkembang sebagai desa kerajinan, suasana desa ini masih seperti desa pada umumnya, tak banyak papan penunjuk seperti halnya di desa Kasongan. Sebagian besar pengrajin memproduksi aksesoris keris dalam skala rumah tangga dan hingga kini belum berkembang sanggar atau merek khusus aksesoris keris. Namun, ada satu yang terkenal, yaitu milik Pak Jiwo.

Di kediaman Pak Jiwo, anda bisa menyaksikan proses pembuatan warangka keris yang umumnya dibuat dari bahan lempengan kuningan. Hampir sama seperti proses menatah keris, pembuatan warangka juga menggunakan alat-alat yang sederhana, berupa palu, paku tatah dan alas yang juga terbuat dari bahan aspal. Prosesnya bisa dikatakan lebih sederhana dari membuat hiasan keris sebab tak perlu melebur bahan terlebih dahulu.

Lempengan kuningan sebagai bahan baku terlebih dahulu dibuat bentukan sarung keris kemudian dipatri. Selanjutnya, untuk membantu proses penatahan, sarung keris yang masih polos dilekatkan pada permukaan alas yang terbuat dari aspal. Proses penatahan pun dimulai sesuai motif yang ingin dibuat. Biasanya warangka didominasi dengan gambaran bunga-bunga.

Selesai ditatah, warangka kemudian memasuki tahap finishing. Pada tahap ini, warangka yang telah ditatah dipertegas bentuknya dengan menggunakan batang besi. Agar warna lebih cerah, warangka dipoles dengan larutan yang bersifat asam. Dahulu, banyak pengrajin menggunakan air jeruk untuk mencerahkan warna, namun kini lebih banyak pengrajin yang menggunakan larutan HCl sebab lebih praktis.

Jika anda berjalan ke rumah-rumah produksi aksesoris lain, anda juga bisa melihat proses pembuatan pendok. Umumnya, banyak pendok terbuat dari kayu asem dengan dua bentuk, gaya Solo yang lebih besar dan lengkung dan gaya Yogyakarta yang lebih kecil. Ada pula yang membuat tangkai keris yang didesain beragam, mulai dari figur binatang seperti singa dan naga hingga figur manusia. Untuk menghasilkannya, kayu-kayu itu diukir sesuai desain yang diinginkan.

Berbeda dengan para pengrajin di kampung Serangan yang masih cenderung mengandalkan pesanan, pengrajin aksesoris keris di Banyusumurup selalu memproduksi aksesoris baru setiap harinya. Rata-rata satu orang mampu memproduksi minimal 2 warangka per harinya.

Kunjungilah, anda akan dapat melihat beragam warangka, pendok dan aksesoris keris lainnya dalam rancangan yang beragam.

Gereja Ganjuran, Bertemu Yesus dalam Wajah Jawa



Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, demikian nama lengkapnya, bisa dijangkau dengan mengendarai kendaraan bermotor sejauh kurang lebih 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Pemandang sawah yang hijau dan pohon serupa cemara akan menyambut anda begitu memasuki Desa Ganjuran, tempat gereja ini berdiri. Mengunjungi gereja ini, anda akan mengetahui tentang sejarah gereja dan inkulturasi Katolik dengan budaya Jawa, terakhir mendapatkan ketenangan hati.

Kompleks gereja Ganjuran mulai dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Panti Rapih.


Pembangunan gereja yang dirancang oleh arsitek Belanda J Yh van Oyen ini adalah salah satu bentuk semangat sosial gereja (Rerum Navarum) yang dimiliki Smutzer bersaudara, yaitu semangat mencintai sesama, khususnya kesejahteraan masyarakat setempat yang kebanyakan menjadi karyawan di Pabrik Gula Gondang Lipuro yang mencapai masa keemasan pada tahun 1918 - 1930.

Dalam perkembangannya, kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan candi yang dinamai Candi Hati Kudus Yesus pada tahun 1927. Candi dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa itu kemudian menjadi pilihan lain tempat melaksanakan misa dan ziarah, selain di dalam gereja, yang menawarkan kedekatan dengan budaya Jawa.

Berjalan keliling gereja, anda akan menyadari bahwa bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Hindu dan Jawa. Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib bila dilihat dari udara, sementara gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Nuansa Jawa juga terlihat pada altar, sancristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis). Patung Yesus dan Bunda Maria yang tengah menggendong putranya juga digambarkan tengah memakai pakaian Jawa. Demikian pula relief-relief pada tiap pemberhentian jalan salib, Yesus digambarkan memiliki rambut mirip seorang pendeta Hindu.

Anda yang ingin berziarah bisa menuju tempat pengambilan air suci yang berada di sebelah kiri candi. Setelah mengambil air suci, anda bisa duduk bersimpuh di depan candi dan memanjatkan doa permohonan. Prosesi ibadah diakhiri dengan masuk ke dalam candi dan memanjatkan doa di depan patung Kristus. Beberapa peziarah sering mengambil air suci dan memasukkannya dalam botol, kemudian membawa pulang air itu setelah didoakan.

Bila ingin mengikuti misa dalam bahasa Jawa dan nyanyian lagu yang diiringi gamelan, anda bisa datang ke gereja ini setiap hari kamis hingga Minggu pukul 5.30, setiap malam Jumat pertama, setiap malam Natal dan setiap Sabtu Sore pukul 17.00. Misa dalam bahasa Jawa itu digelar di pelataran candi, kecuali misa harian setiap pukul 5.30 yang diadakan di dalam gereja.

Usai melaksanakan ibadah atau ziarah, sempatkanlah untuk berbincang dengan warga setempat untuk mengetahui sejarah tentang Ganjuran sendiri, tempat gereja ini berdiri. Dalam Babad tanah Jawa, Ganjuran adalah sebuah wilayah Alas Mentaok yang dinamakan Lipuro. Tempat itu dahulu sempat digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa dan direncanakan menjadi pusat kerajaan Mataram, namun batal.

Perubahan nama menjadi Ganjuran sendiri berkaitan dengan kisah percintaan Ki Ageng Mangir dan Rara Pembayun yang diasingkan oleh Mataram. Kisah cinta dua orang tersebut yang kemudian mengilhami penciptaan tembang Kala Ganjur, berarti tali pengikat dasar manusia dalam mengarungi kehidupan bersama dengan dasar cinta. Nah, dari nama tembang tersebutlah desa yang dulu bernama Lipuro itu berubah menjadi Ganjuran.

Jika anda mau berbincang dengan penduduk setempat, akan banyak lagi cerita yang bisa digali, misalnya alasan dibatalkannya Lipuro menjadi pusat kerajaan Mataram, alasan pengasingan Ki Ageng Mangir dan Roro Pembayun dan sebagainya.

take from yogyes